Pertanian Organik di Lumajang Minim, Ini Respon HKTI dan Kadisperta

Pertanian Organik di Lumajang Minim, Ini Respon HKTI dan Kadisperta
Ketua HKTI dilahan pertanian organik

BERITABANGSA.COM- LUMAJANG – Geliat pertanian organik yang menggaung sejak era pemerintahan almarhum Bupati Lumajang DR H Sjahrajad Masdar bertajuk “aksi gerakan pemupukan organik dan benih unggul bersertifikat” atau SIGARPUN BULAT masih rendah dan minim.

Program yang dilauching pada peringatan Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke 756 pada 15 Desember 2011 lalu itu, bertujuan agar para petani sadar memakai pupuk organik, demi perbaikan hara tanah yang terkena pupuk kimia sejak 1970-an.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1453

“Gerakan ini berusaha mengoptimalkan pemakaian pupuk organik di kalangan petani ditambah juga untuk penggunaan benih bersertifikat juga di lakukan akan produktivitas petani meningkat signifikan,” kata Ketua HKTI Kabupaten Lumajang, Iskhak Subagio kepada media ini, Kamis (17/3/2022).

Namun aplikasi di lapangan, menurut Iskhak, gerakan ini tidak optimal mendapat respons dari petani sampai saat ini.

“Jadi progres gerakan ini tidak pernah terekspos ke publik mengenai data parameter dan capaiannya secara kuantitatif dan kualitatif,” tambahnya.

Berita Menarik Lainnya:  Linkrafin Bakal Kenalkan Jember dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia

Pada Pebruari 2020, kata Iskhak, Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang meluncurkan program Lumajang bumi organik, mirip SIGARPUN BULAT, namun lebih fokus pada penggunaan pupuk organik untuk menggenjot kesuburan tanah petani.

“Program ini juga belum ada indikator capaiannya dan targetnya, berapa hektare lahan yang bisa dikonversikan,” imbuhnya lagi.

SIGARPUN BULAT hingga Bumi Organik, kata pengurus KUD Labruk ini, belum terpublikasi berapa hektare lahan yang sudah aktif memakai pupuk organik, berapa jumlah petaninya, memakai benih bersertifikat, hingga sejauh mana efektivitas program, berapa produksi yang dihasilkan, di kawasan mana saja per tahun.

Jargon Lumajang Bumi Organik juga sama nasibnya dengan SIGARPUN BULAT, indikator dan capaiannya masih kabur.

Kata Iskhak, kini jika petani butuh pupuk, padahal subsidi pupuk sudah banyak dikurangi, per Juni 2022 jenis pupuk jenis UREA dan NPK PHONSKA.

Maka awal Maret distributor menggenjot pengiriman pupuk petroganik dan ZA ke pengecer.

Sehingga pengecer pupuk petroganik meningkat tajam, sementara petani tidak mau memakai pupuk organik itu tadi.

Berita Menarik Lainnya:  Curah Hujan Tinggi, Petani Blewah di Jombang Menjerit

“HKTI mengusulkan mulai sekarang Pemkab lewat Diperta, harus serius membahas ini, membuat aksi nyata, sidak ke pengecer, distributor dan sejauh mana implementasi pupuk organik di lapangan. Cara sederhana adalah mengundang semua produsen pupuk organik agar melakukan demplot se Kabupaten Lumajang,” ujarnya.

Dukungan APBD untuk pembelian pupuk organik, kata Iskhak, mutlak dilakukan dan harus sebagai intervensi nyata pemerintah terhadap kesulitan petani.

Petani harus dibangkitkan juga kreativitasnya untuk memenuhi kebutuhan pupuknya, tanpa intervensi pemerintah petani akan terus memburu pupuk kimia nonsubsidi yang harganya mahal, sementara produktivitasnya belum optimal, akhirnya petani jadi korban.

“Jangan jadikan petani kita sebagai pejudi sejati, mereka merugi tapi tetap bertani karena hanya itu yang mampu mereka lakukan,” pungkasnya.

Iskhak menegaskan jika sudah saatnya eksekutif dan legislatif memiliki visi yang sama dalam pengembangan pertanian yang murah dan ramah lingkungan dan perlu peran dari komunitas dan ormas yang peduli pertanian, tinggal bagaimana menggerakkan dan memberi ruang pada mereka.

Berita Menarik Lainnya:  Tak Hanya di Malang Barat, Tanaman Hortikultura Juga Dikembangkan di Malang Timur

Iskhak berharap, pemerintah harus proaktif melakukan kegiatan yang langsung menyentuh petani dengan melibatkan KADIN, HKTI, PERPADI dan penyuluh swakarsa, WCDI dll perlunya sinergitas tanpa ego sektoral.

Sementara itu, Kepala Diperta Kabupaten Lumajang, Hairil, menyatakan dalam mewujudkan Lumajang Bumi Organik, Pemkab Lumajang melalui Diperta, terus menerus berupaya untuk mengedukasi serta mengajak para petani untuk mengembangkan pertanian organik di Lumajang.

Paling tidak saat ini, kata Hairil, sudah ada 3 komoditi yang sudah dikembangkan melalui sistem pertanian Organik ini, yaitu Padi organik, saat ini ada sekitar 32 hektare yang dikembangkan di Desa Penanggal, Desa Tambahrejo (Kecamatan Candipuro), Tanggung, Kalisemut (Kecamatan Padang), Banyuputih (Kecamatan Jatiroto) dan Bulurejo (Kecamatan Tempursari).

“Selanjutnya komoditi Kopi, hampir semua di Kecamatan Pasrujambe, seluas 100 hektar lebih, dengan hasil kopi jenis Robusta 55.157 kg dan jenis Arabika 501,50 kg Oce,” jelasnya.

Kemudian, kata mantan Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Lumajang ini, ada pisang pola organik lebih dari 21 hektare dengan hasil rata-rata per tahun sebanyak 1.471 tandan.

banner 1024x1280

Pos terkait

banner 1024x697

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *