Pernah Juara, Kerajinan Tenun Parengan Lamongan Diusulkan Jadi Desa Devisa

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat mengunjungi Kerajinan Tenun Parengan Lamongan
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat mengunjungi Kerajinan Tenun Parengan Lamongan

BERITABANGSA.COM-LAMONGAN- Kerajinan Tenun Parengan Lamongan pernah meraih penghargaan nasional, semisal pemecahan Rekor MURI atas Rekor kain tenun terpanjang di dunia, 64,20 meter.

Selain itu juga, Perajin Tenun Lamongan pada East Java Fashion Harmony 2019, Juara 1 Pelestari Budaya di Parasamya Kertanugraha 2009.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1453

Melihat itu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mengusulkan Desa Maduran, Lamongan sebagai desa devisa guna memenuhi kuota dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Desa ini memiliki produk unggulan berupa tenun ikat dan kain songket.

“Lamongan ini punya tenun ikat yang sentranya ada di Desa Parengan yang diproduksi oleh penduduk desa ini,” kata Gubernur Khofifah usai dari Butik Kerajinan Tenun Ikat Paradila di Desa Parengan, Maduran Lamongan, Kamis (5/3/2022) siang.

Sebagai informasi, Tenun Ikat ini berasal dari Desa Parengan, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan ini dikenal masyarakat sebagai nama tenun ikat Parengan. Tenun Ikat Parengan ini dibuat langsung di sentra industri bernama Paradila. Selain tenun ikat, Butik Paradila menyediakan tenun ikat doby, tenun ikat doby tiker, songket sido, songket payet, songket ancak, dan tenun ikat spesial.

Butik Paradila telah berdiri sejak 1989 dan menaungi warga Desa Parengan dan sekitarnya untuk menjaga kelestarian tenun ikat di Lamongan.

Berita Menarik Lainnya:  Pilih Tema Terbaik dari Developer Lokal yang Sesuai Kebutuhan Website

Oleh karenanya, Khofifah mengatakan, Desa Parengan di Lamongan ini patut untuk diusulkan menjadi desa devisa. Pasalnya, beberapa kriteria dari desa devisa sudah ada di Desa Parengan ini. Termasuk menghasilkan Kerajinan Tenun Ikat.

Menurut Khofifah, dengan menyandang predikat sebagai desa devisa, maka daya saing produksi tenun ikat asal Desa Parengan akan semakin meningkat. Mengingat, program Desa Devisa ini salah satunya memberikan pendampingan dan pengembangan kapasitas pelaku usaha berorientasi ekspor.

Khofifah menegaskan bahwa program desa devisa ini sangat strategis dalam meningkatkan kualitas produk, utamanya dalam mendorong produk asal desa masuk ke rantai pasok global. Pada akhirnya, ekonomi masyarakat akan meningkat dan kesejahteraan akan turut mengikutinya.

“Kuota Provinsi Jawa Timur dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia sebanyak 15 desa, saat ini kami terus melakukan hunting dan identifikasi mana-mana saja desa yang memenuhi kriteria untuk masuk dalam kuota tersebut. Desa Parengan ini menurut saya sangat layak dan sudah diusulkan,” imbuhnya.

Gubernur Khofifah menjelaskan untuk dapat diusulkan menjadi desa devisa, desa harus memenuhi kualifikasi yang ditetapkan LPEI.
Di antaranya memilki produk yang unik, memiliki produk mandiri, terdapat beberapa pengrajin dalam desa tersebut, dan pengrajinnya telah ada dalam satu asosiasi.

“Syaratnya, satu bahwa produknya unik kedua itu produk sendiri bukan menjual produknya jasa lain jasa devisa ketiga bahwa satu desa itu ada beberapa unit pengrajinnya yang keempat bahwa di desa itu unit pengrajin ini sudah terasosiasi dalam pengelompokan koperasi atau asosiasi,” jelasnya.

Berita Menarik Lainnya:  Mi Tebak, Inovasi 2 Mahasiswi Ubaya dari Tempe dan Daun Sengkubak

Selain itu, Gubernur Khofifah juga mengungkapkan bahwa jika mendapatkan approval dari LPEI, maka berkesempatan Go Internasional melebarkan sayap market sampai mancanegara. Karena bersamaan dengan berlangsungnya agenda G20 di Indonesia mulai Maret sampai akhir tahun maka akan banyak peluang pasar yang bisa didapatkan.

“Karena ini bisa langsung didisplay di G20, jadi yang sudah masuk kategori desa devisa kesempatan utamanya adalah produknya didisplay di dalam pertemuan pertemuan G20,” ungkapnya. Kita harapkan akan menjadi pasar baru bagi seluruh pelaku pelaku industri kreatif termasuk tenun ikat,” imbuhnya.

Dipaparkan Khofifah, beda dengan tenun ikat pada umumnya, tenun ikat Parengan memiliki ciri khas yaitu berbahan kain lebih halus dan tidak begitu tebal.

“Begitu juga dengan bahannya yang lebih lemas serta jatuh dan memberikan kesan dingin ketika dipakai. Ini menjadi nilai lebih yang dimiliki tenun ikat parengan,” tegasnya.

Khofifah pun mengagumi motif khas tenun ikat Parengan ini berupa ‘gunungan’ mirip gapura. Motif ini melambangkan gunung mati di Lamongan yang dihidupkan lagi lewat tenun ikat Parengan.

“Proses produksinya masih tradisional. Meski hanya diproduksi di Lamongan, tenun ikat Parengan dari butik Paradila sudah menembus pasar internasional, di antaranya Somalia dan Timur Tengah. Tenun ikat Parengan ini memang hanya bisa ditemui di Lamongan,” jelas Khofifah.

Berita Menarik Lainnya:  Bupati Salwa Sebut Plh Sekda Bondowoso Telah Diajukan Ke Gubernur

Khofifah mengatakan di desa ini terdapat 52 unit usaha tenun ikat dengan total pekerja mencapai 2.700 orang. Adapun kapasitas produksi per bulan mencapai 3.000 potong kain tenun dan 20.000 lembar sarung.

“Selama ini tenun ikat Lamongan ini telah melakukan ekspor sarung (sarung ikat) ke Somalia dan Timur Tengah melalui eksportir di Surabaya,” ujarnya.

Nujum, istri dari Miftakhul Khoiri pemilik butik Paradila, mengaku memiliki 4 -7 orang pekerja penenun di butik Paradila. Sementara lainnya tersebar di rumah sendiri. Dari situ 1 orang pekerja memiliki 1 keahlian. Setiap kain butuh 14 tahapan produksi.

“Sementara ini pasarnya sudah sampai Timur Tengah, hanya kita dibantu eksportir di Surabaya untuk bisa menjual sampai di sana, biayanya tidak mencukupi kalau harus sendiri,” ucapnya.

Secara harga, tenun ikat Parengan ini juga bisa dikatakan murah. Karena di kisaran harga Rp150-225 ribu untuk per helai tenun ikat, ikat dobi Rp225 ribu, dan songket Rp350 – 750 ribu.

Sementara untuk proses membuat kain tenun ikat sekitar 4 jam satu lembar, sehari bisa menghasilkan 2 kain tenun ikat per satu orang pekerja.

Untuk kain songket, prosesnya bisa sehari sendiri, maka per hari hanya satu kain songket per pekerja.

banner 1024x1280

Pos terkait

banner 1024x697

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *