Apakah Koin Game merupakan Produk yang bisa dijualbelikan?

Gambar Ilustrasi
Gambar Ilustrasi

Apakah koin game merupakan produk yang bisa dijualbelikan? Pertanyaan ini datang dari salah satu pembaca dan masuk dalam inbox media sosial penulis, baru-baru ini.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka ada baiknya kita kembalikan pertanyaan itu kepada teori produksi dalam Islam, yaitu apakah koin game termasuk jenis barang yang diproduksi?

Bacaan Lainnya
banner 1024x1023

Sudah barang tentu, hal ini membutuhkan perenungan lebih jauh. Mungkin jawabnya adalah ada pada kisaran “jika tidak ada aktivitas memproduksi, maka mana mungkin koin itu bisa tampil di layar game.” Iya, bukan?

Jawaban ini cukup masuk akal, sebab bagaimanapun juga koin game itu memang memiliki tampilan di layar komputer atau layar gamer sebagai diamond, kapal selam, tanda love, boneka dan sejenisnya sehingga tidak hanya terdiri dari angka yang tak beraturan (ghairu munaddham). Mengacu pada fisik yang tampak di layar, maka tidak diragukan lagi bahwa koin tersebut memang termasuk aset produksi (muntaj). Apa buktinya?

Karena harta dalam Islam hanya ada 2 jenis, yaitu terdiri atas ainy (material fisik) dan syaiin maushuf fi al-dzimmah (aset yang memiliki underlying), maka koin game itu hanya bisa dikelompokkan ke dalam aset bagian aset yang memiliki underlying atau memiliki aset kolateral.

Berita Menarik Lainnya:  Status Placenta sebagai Obyek Teknologi Stem Cell

Pertanyaan berikutnya, apa aset kolateral koin game tersebut? Jawabnya juga ada 2 kemungkinan, yaitu (1) bisa berupa bahasa pemrograman itu sendiri, dan (2) bisa berupa mata uang lain yang digunakan untuk melakukan topping up koin game.

Aset Kolateral Koin Game berupa Bahasa Pemrograman

Jika aset yang menjadi kolateral koin game adalah terdiri dari hasil bahasa pemrograman, maka anasir produksi dari koin game tersebut meliputi : (1) berupa komputer, listrik dan software pemrograman yang menempati derajatnya ardlu (ma yaqumu maqama al-ardl), (2) kemampuan mengoperasionalkan bahasa pemrograman yang menempati derajatnya kapital / modal (ma yaqumu maqama al-ra’si al-maal), dan (3) aktivitas atau kemampuan membuat program yang menempati derajatnya kerja produksi (ma yaqumu maqama al-amal).

Selanjutnya, apa yang menjadi ciri utama bahwa koin tersebut merupakan produk? Jawabannya adalah terletak pada basis keseragaman koin yang diproduksi. Tanpa ada landasan keseragaman bahasa pemrograman yang teratur (munaddham), maka tidak mungkin ada fitur koin yang menunjuk pada karakteristik yang sama. Adanya ciri aktivitas munaddham (seragam) semacam ini merupakan landasan utama adanya amaliyyah intajiyyah (proses produksi).

Berita Menarik Lainnya:  Jangan Keliru! Ini Beda antara 5% dengan 5%-nya terhadap Pokok Pinjaman

العمل هو العنصر الثاني للإنتاج. وهو وسيلة استخراج معظم منافع الأرض، ويضمّ كل مجهود بدني أو ذهني مقصود ومنظم، يبذله الإنسان لإيجاد زيادة مادية أو منفعة.
“Pekerjaan (baca: aktivitas memrogram) merupakan unsur kedua dari proses produksi. Ia merupakan sarana untuk mendapatkan manfaat dari bumi (baca: software pemrograman). Padanya terkumpul segenap jerih payah badan dan jiwa, cita-cita berproduksi dan keseragaman (munaddham) produk, yang mana usaha itu dikerahkan oleh seorang insan guna menghasilkan materi dan manfaat lain.” (Maqashid al-Syariah al-Islamiyyah, Juz 2, halaman 392).

Aset Kolateral Koin Game berupa Mata Uang dari Topping Up
Aset kolateral jenis ini hanya ada ketika koin game tersebut bersifat dibeli lewat mekanisme topping up. Oleh karenanya, harta berupa koin ini selanjutnya bisa disebut sebagai ma fi al-dzimmah (aset berjamin atau aset berkolateral). Ada juga yang mengistilahkan sebagai maal duyun (harta utang).

Sebagai harta berbasis utang, maka berlaku ketentuan bahwa sah dan tidaknya akad jual beli koin game tersebut ke sesama gamer tergantung pada unsur kepatuhan terhadap akad hiwalah (alih utang). Mengapa? Sebab mentransaksikannya merupakan bagian dari menjalankan akad bai al-dain bi al-dain (jual beli utang dengan utang).

Berita Menarik Lainnya:  Kelemahan Landasan BAPPEBTI dalam Pengaturan Perdagangan Kripto di Indonesia

Oleh karenanya, besarannya wajib memenuhi kaidah tamatsul (setara dalam utang yang dialihkan), taqabudl (bisa diserahterimakan) dan hulul (tunai). Berdasarkan ketentuan ini pula, berlaku ketentuan transaksii lainnya, yaitu apabila koin itu berharga 100 ribu, maka wajib bagi pihak yang membeli untuk menggantinya sebesar 100 ribu juga. Pihak pembelinya tidak boleh meminta lebih. Sebab kelebihan yang dipinta, dapat menjadikan pelakunya jatuh ke dalam transaksii riba al-fadhli.

Kesimpulan yang bisa ditarik adalah apakah koin game merupakan produk. Jawabnya adalah iya, ia merupakan produk. Apakah boleh ditransaksikan? Jawabnya adalah boleh. Namun, dengan catatan bahwa game tersebut tidak memuat unsur yang dilarang dalam syara’ dan tidak menjadi alat malahi. “Alat malahi” adalah alat yang bisa melalaikan seorang individu dari menunaikan kewajiban yang sudah ditetapkan oleh syara’, seperti mengaji, sekolah, sholat, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Wallahu a’lam bi al-shawab

*) Muhammad Syamsudin – Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

banner 600x310

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *