Diperiksa di Ruang Tanpa CCTV, Ajudan Bupati Nganjuk Pernah Rubah BAP

Keterangan foto: Suasana sidang kasus dugaan suap yang melibatkan terdakwa Bupati Nganjuk non aktif Novi Rahman.

Beritabangsa.com, Nganjuk – Fakta menarik dari sidang kasus dugaan suap yang melibatkan terdakwa Bupati Nganjuk non aktif Novi Rahman, bermunculan.

Kali ini terungkap di fakta persidangan saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan tiga orang penyidik dari Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polisi RI.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1453

Mereka adalah AKP Sarjono, Kompol Is Indarto, dan Ipda Deni Sukmana.

AKP Sarjono, diketahui sebagai penyidik yang memeriksa ajudan Bupati, Izza Muhtadin.

Sedangkan Kompol Is Indarto dan Ipda Deni Sukmana, yang memeriksa Bupati Novi saat sebagai saksi dan tersangka.

Terungkap fakta menarik di kala penyidik AKP Sarjono ditanya oleh JPU, apakah ia merupakan penyidik dari terdakwa Izza ? Saksi pun membenarkan.

Dia mengaku sebagai penyidik dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kedua terhadap Izza.

“Pemeriksaan Izza sebagai saksi dua kali. Dan saya yang kedua. BAP yang kedua ada perubahan keterangan dari Izza,” ujarnya, Senin (13/12).

Berita Menarik Lainnya:  Dua Oknum Polisi Penganiaya Jurnalis Disidang di PN Surabaya

Dia menerangkan, di BAP pertama, Izza mengaku menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri.

Uang itu digunakan untuk bersenang – senang dan membeli handphone. Namun, di BAP kedua, Izza, merubah keterangannya dan mengatakan uang itu diserahkan kepada Bupati Novi.

“(BAP) pertama itu digunakan untuk sendiri, untuk hiburan maupun beli HP. Tapi di BAP dia rubah menjadi uang itu diserahkan pada Bupati,” tambahnya.

Dijelaskannya , saat diperiksa, Izza dalam kondisi sehat dan dalam ruangan yang cukup luas, yakni ruangan meeting atau ruang rapat Dit Tipikor Bareskrim Mabes Polri.

Pernyataan ini pun memicu pertanyaan dari kuasa hukum Izza, Petrus Bala Pattyona.

Dia menanyakan apakah lazim seseorang diperiksa di ruangan meeting apalagi tidak terdapat kamera CCTV?

Hal ini pun dijawab tidak masalah oleh AKP Sarjono. Meski diperiksa tidak di ruang pemeriksaan, namun ia memastikan Izza tidak dalam tekanan.

“Tidak masalah, selama itu juga diketahui oleh anggota yang lain. Selain itu ruangan di sana juga luas,” kilahnya.

Terkait keterangan Izza yang dirubah hingga dua kali, pengacara Izza pun kembali mempertanyakan apakah pernah melakukan konfrontir terhadap saksi yang lain seperti Bupati Novi?

Berita Menarik Lainnya:  Tiga Reklame Belum Bayar Pajak di Sukodono Ditutup BPPD

AKP Sarjono mengakui tidak pernah mengkronfontirnya. Ia beralasan tidak melakukan itu karena ia sudah mempercayai BAP yang dibuat oleh penyidik lain yang memeriksa Novi.

“Tidak (mengkonfrontir). Karena sudah diperiksa oleh tim yang lain,” tandasnya.

Sementara itu, kuasa hukum Bupati Novi Tis’at Afriyandi mempertanyakan soal proses penangkapan Bupati Novi.

Dia menanyakan apakah penyidik tahu kapan Bupati dan para Camat itu ditangkap ?

Para penyidik itu pun mengangguk tahu meski mengaku lupa tanggal penangkapannya.

Saat disebutkan tanggal sesuai surat penangkapan, ketiga penyidik itu pun menganggukkan kepala tanda setuju.

“Apakah betul Bupati Novi ditangkap (sesuai surat yang ditunjukkan) pada tanggal 10 (Mei) dan ditahan pada 11 (Mei),” tanya Tis’at.

Ti’sat pun memastukan, jika secara keadministrasian, hal itu tidak lah betul. Sebab, Bupati Novi ditangkap pada 9 Mei dan ditahan mulai 10 Mei.

“Bupati ditangkap pada 9 Mei. Kenapa suratnya tertulis (tanggal) 10,” ujarnya ditemui usai sidang.

Ia menambahkan, keganjilan ini tentu menguakkan fakta persidangan lainnya.

Berita Menarik Lainnya:  Kapolres Tanjung Perak: 63 Pelanggar Protokol Kesehatan Terjaring Operasi Yustisi di Klenteng Mbah Ratu

Ia menyebut, keterangan Izza yang dirubah hingga dua kali itu menandaskan kecurigaannya akan ada tekanan terhadap saksi waktu itu.

Apalagi, Izza diperiksa dalam ruangan yang tidak berkamera CCTV.

“Kalau seperti itu gimana pembuktian tidak ada tekanan. Kan susah juga, apalagi keterangan – keterangan Izza yang menyudutkan klien kami tidak pernah dikonfrontir,” tegasnya.

Ia menegaskan, sesuai keterangan para penyidik yang dihadirkan sebagai saksi itu semakin menegaskan jika para terdakwa yang sebelumnya masih berstatus sebagai saksi itu, tidak pernah dikonfrontir keterangannya dengan saksi lainnya.

“Keterangan para saksi waktu itu adalah berdiri sendiri. Tidak pernah dikonfrontir. Sehingga, jika ada keterangan yang mencatut nama bupati, tentu merugikan klien kami,” tandasnya.

Diketahui, sejumlah terdakwa yakni para Camat dan ajudan Bupati yang menjadi saksi untuk Bupati Novi, mencabut dan meralat keterangan yang disampaikannya di BAP.

Seperti disampaikan Izza, uang suap yang diterima dari para Camat selama ini, adalah inisiatif dirinya dan dipakai untuk kepentingannya sendiri.

Atas pencabutan ini, JPU menghadirkan para penyidik Mabes Polri sebagai saksi verbal.

banner 1024x1280

Pos terkait

banner 1024x697

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *