Belasan Tahun Berjuang, Ipong Berharap Hak Atas Tanahnya Bisa Kembali

Beritabangsa.com, Surabaya – Belasan tahun, Arif Syaifuddin alias Ipong (59) warga Surabaya berjuang mendapatkan hak atas dua bidang tanah miliknya yang ada di Jalan Bulu V/19 Surabaya.

Perjuangan Ipong bahkan berlarut hingga 2020. Bahkan dirinya pernah ditersangkakan atas laporan Ongko Tikdoyo yang menguasai bidang tanah miliknya pada 2012 lalu.

Bacaan Lainnya
Berita Menarik Lainnya:  Polrestabes Surabaya Gelar Kasus Kejadian Viral “FETISH KAIN JARIK”
banner 1024x1023

“Setelah melalui persidangan bahkan putusan MA, saya dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari segala tuntutan,” kata Ipong saat ditemui, Jumat (13/11/2020).

Ipong kecewa terhadap tindakan penegakan hukum lantaran tak mengindahkan bukti-bukti kepemilikan yang ditunjukkannya.

Bahkan, tanah tersebut kini telah dibangun oleh yayasan milik Ongko Tikdoyo. Padahal telah terbit surat putusan pemilik sah objek tanah itu adalah milik Ipong.

“Kami ini sudah mencoba membuka jalan untuk upaya mediasi. Tapi memang yang bersangkutan tidak mau menerima. Tidak ada kesepakatan dan titik temu,” kata Ipong.

Berita Menarik Lainnya:  Berkat CCTV Masjid, Maling Sepeda Angin di Bekuk Reskrim Polsek Kenjeran

Ia berharap, kasus sengketa tanah itu segera terselesaikan. Bahkan, hingga saat ini Ipong masih membayar pajak bumi dan bangunan atas objek tanah tersebut.

Sementara kuasa hukum Achmad Hayyi, S.H., M.H mengungkapkan pihaknya hadir memenuhi undangan Polda Jatim terkait pengembalian batas 11 sertifikat tanah.

Sejak bulan september, pihaknya sudah mengirimkan surat ke Mabes Polri, Polda Jatim, BPN, Pemerintah Kota Surabaya dan Kelurahan setempat agar dilakukan pengukuran ulang petok 761 atas Rusnan Peaste.

“Kami sudah mengawal Pak Ipong selama 10 tahun silam. Perkara ini sebetulnya sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya, akhirnya pak Ipong dinyatakan tidak bersalah,” ungkapnya.

Berita Menarik Lainnya:  Dua Wartawan di Surabaya Jadi Korban Perampasan dan Kekerasan Oknum Debt Collector

Dirinya menyampaikan pada tahun 2012 pihaknya melakukan pemblokiran, namun saat tahun 2017 – 2018 terbit sertifikat.

“Oleh karena itu, kita tadi mencocokan petok yang asli ke Mabes Polri, Polda, BPN dan Kelurahan dan alhamdulillah mereka menyatakan petok kami asli,” jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Ongko Tikdoyo masih belum dapat dikonfirmasi.

Reporter : Ais

banner 600x310

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *