Masyarakat Angkat Bicara Soal Buruknya Drainase dan Tata Kota

Drainase yang rusak akibat hujan | Foto: Zulkifli
Drainase yang rusak akibat hujan | Foto: Zulkifli

Beritabangsa.com, Jeneponto – Buruknya sistem drainase menyebabkan terjadinya genangan air di jalan poros, dan merendam beberapa rumah, seperti yang terjadi pada Senin (29/11/2021) kemarin. Sejumlah titik ruas jalan utama di Kabupaten Jeneponto yakni di Kelurahan Bonto Tangnga, Kecamatan Tamalatea, wilayah Pakkaterang serta Pacceko, Kecamatan Binamu terendam.

Ruas jalan poros di Kelurahan Bonto Tangnga diminta naik status menjadi ruas jalan nasional namun hingga kini, masih tidak nampak tanda – tanda naik status sebagai jalan nasional.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1023

Menurut Yusrifar, S.Pd, warga Jeneponto, masalah itu seharusnya dievaluasi dari balai Jalan Nasional karena dimungkinkan agar dapat dilakukan pembenahan jalan dan bangunan pendukung jalan seperti drainase.

Berita Menarik Lainnya:  Kodim Jeneponto Gelar Vaksin di Desa Punagaya

Pada 2020 lalu, ada pekerjaan drainase namun hanya sebatas pembersihan sedimen (tanah dan sampah) yang menumpuk. Namun hasilnya masih kurang efektif.

“Seperti yang kita lihat sekarang, drainase yang sudah dibersihkan kembali tertutupi. Memang jika dilihat, bangunan drainase yang ada di ruas jalan ini sudah tidak layak lagi untuk menjadi bangunan pendukung jalan karena ukurannya sangat kecil,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Rahmat, yang juga warga Jeneponto, bahwa drainase tersebut kedalamannya juga kurang.

“Kalau model drainase tempo dulu, seperti ini ya hanya cocok untuk ruas jalan kampung saja. Sudah tidak layak dijadikan bangunan pendukung untuk ruas jalan seperti di Ibu Kota Kecamatan yang menjadi jalan poros provinsi Sulawesi Selatan,” terangnya.

Berita Menarik Lainnya:  Lazisnu Probolinggo Targetkan 100 Juta Koin untuk Muktamar NU ke-34

Sumber lain, Herman Naba, menambahkan konstruksi gorong-gorong yang jadi penghubung drainase lingkungan di perempatan lampu merah Kelurahan Bonto Tangnga, Kecamatan Tamalatea, sudah tak berfungsi karena lebar dan tidak layak.

“Mengingat program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada 2020 fokus pada pembenahan atau revitalisasi drainase untuk peningkatan jalan nasional. Namun, proses revitalisasi 2020 tidak efektif karena tidak ada pemantauan,” ujar Herman.

Tampak tata kota dan drainase yang rusak | Foto: Zulkifli
Tampak tata kota dan drainase yang rusak | Foto: Zulkifli

Drainase di sepanjang jalan poros Ibu Kota Kelurahan Bonto Tangnga, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, konstruksinya sudah lama dan tidak layak disebut drainase Jalan Nasional.

Berita Menarik Lainnya:  Jelang Tanggal Larangan Mudik, Sekda Jombang Pastikan Santri Telah Pulang

“Atas nama warga yang terkena dampak kami meminta Pemkab Jeneponto, dan Balai Jalan Nasional Provinsi Sulawesi Selatan turun ke Jeneponto, untuk meminimalisir kerusakan pada 2021 ini,” sergah Akbar Tanjung warga lainnya.

Saluran yang sempit akibatkan banjir | Foto: Zulkifli
Saluran yang sempit akibatkan banjir | Foto: Zulkifli

Untuk itu pihaknya juga mengirim surat ke Balai Jalan Nasional Provinsi Sulawesi Selatan dan Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Lewat teman media sebagai penyambung aspirasi masyarakat ini langkah awal kami melaporkan kepada pihak yang berwenang seperti Balai Jalan Nasional Provinsi Sulawesi Selatan. Jika ada tim pemantau yang ditugaskan, apakah di ruas jalan ini tidak pernah dilaporkan. Kalau memang tidak, berarti tim pemantau itu tidak profesional,” tukasnya.

banner 600x310

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *