Pelanggaran Lalu Lintas Dimulai dari Orang Tua

pelanggaran

FENOMENA pelanggaran lalu lintas semakin sering kita temui. Mulai dari menerobos lampu merah, melawan arus lalu lintas, memakai jalur sepeda hingga parkir menggunakan ruang milik jalan baik bahu jalan maupun badan jalan (UU nomor 22 tahun 2009).

Pengendara yang melakukan pelanggaran mulai dari remaja hingga lansia, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, juga pelayan publik/abdi negara.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1453

Hal ini menunjukkan bahwa perilaku melanggar lalu lintas tidak lagi pada stereotip figur tertentu. Setiap generasi, semua identitas gender, public figure yang seharusnya menjadi role model dapat melakukan perilaku pelanggaran lalu lintas.

Berita Menarik Lainnya:  Bupati Malang Isi Jabatan Kosong

Hal yang menonjol tentang perilaku pelanggaran lalu lintas adalah perilaku ini dilakukan oleh orang-orang demi kepentingan ataupun keuntungan pribadi. Sedangkan dampak negatifnya berimbas ke orang lain meskipun sudah pada jalur yang tepat.

Namun, apakah ada kepeduliaan ataupun perspective role taking yang dilakukan pelaku?

Perspective role taking mempersoalkan bagaimana kita mencoba memahami pola berpikir atau perilaku yang dilakukan orang lain.

Sangat sulit ditemukan pelaku pelanggaran memiliki perspective role taking yang baik, bahkan tidak memperdulikan orang lain, yang penting dirinya mendapatkan keuntungan dengan cara melanggar lalu lintas, misalnya tidak terlambat di kantor atau terlambat mengantar anak sekolah, tidak terlalu lama menunggu lampu hijau, tidak perlu memutar jauh dan sebagainya.

Berita Menarik Lainnya:  Ikuti International Exposure, Mahasiswa ITS Studi ke Prancis

Terdapat banyak faktor penyebab perilaku pelanggaran lalu lintas, namun dalam tulisan ini hanya akan membahas tentang peran orangtua sebagai salah satu penyebab perilaku pelanggaran lalu lintas. Seperti diulas di awal, bahwa perilaku pelanggaran lalu lintas dilakukan oleh anak-anak remaja dan orangtua.

Mengapa anak-anak usia remaja juga dapat melakukan pelanggaran lalu lintas misalnya ketika menerobos lalu lintas, dan melawan arus dan parkir sembarangan. Jawabannya karena orangtua mengajarkan tidak apa-apa melawan arus, menerobos lampu merah, memakai jalur sepeda maupun parkir sembarangan dengan cara memberi contoh anak-anak sejak dini.

Berita Menarik Lainnya:  "Jalan Mujahadah Paloh" Menuju Restorasi Politik Di Indonesia

Fenomena inilah yang sangat meresahkan dan sering terjadi. Di sinilah letak peran orangtua dalam terjadinya perilaku pelanggaran lalu lintas yang dilakukan anak remaja, semuanya dimulai sejak dini dan perilaku-perilaku yang awalnya kecil.

Berikut contoh-contoh pelanggaran bisa ditemui saat pagi hari, saaat orangtua mengantarkan anak-anak berangkat sekolah ataupun saat siang dan sore hari saat orangtua menjemput anak-anak sepulang sekolah.

banner 1024x1280

Pos terkait

banner 1024x697

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *