Membumikan Filsafat, Menghadirkan Manusia Yang Arif dan Bijaksana

Radian Jadid | Foto: Istimewa
Radian Jadid | Foto: Istimewa

Beritabangsa.com 18 November 2021 yang jatuh pada hari kamis minggu ketiga merupakan Hari Filsafat Sedunia. Merujuk pada laman unesco.org disebutkan bahwa Hari Filsafat sebelumnya sudah diperingati secara internal oleh UNESCO sejak tahun 2002, dan atas usulan wakil dari Maroko, maka pada sidang UNESCO ke 33 tahun 2005 di Paris, Perancis ditetapkanlah “World Philosophy Day” atau Hari Filsafat Sedunia (HFS) yang dituangkan dalam resolusi No. 33 C/45.

UNESCO menyatakan pentingnya peringatan HFS bagi warga dunia guna mengingat bahwa filsafat adalah disiplin ilmu yang mendorong pemikiran kritis dan mandiri, serta mampu bekerja menuju pemahaman yang lebih baik tentang dunia dan mempromosikan toleransi dan perdamaian.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1453

Menariknya, HFS tidak ditetapkan tanggalnya, hanya ditentukan hari, pekan dan bulannya saja yakni kamis pekan ketiga di bulan November, sehingga tiap tahun akan berbeda-beda tanggalnya.

Tahun 2018 jatuh pada 15 November, tahun 2019 jatuh pada tanggal 21 November dan untuk tahun 2020 kamis pekan ketiga jatuh pada tanggal 19 November. Sedangkan tahun 2021 ini jatuh pada tanggal 18 November.

Filsafat dari kata yunani philosophia secara harfiah bermakna “cinta akan hikmat (sifat bijaksana)”, yakni ilmu yang mempelajari kajian masalah mendasar dan umum tentang persoalan eksistensi, pengetahuan, nilai, akal, pikiran dan bahasa.

Menurut Immanuel Kant, filsafat adalah sebuah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok pangkal dan puncak segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan, yaitu apa yang dapat diketahui (metafisika), apa yang seharusnya dilakukan (etika), sampai di mana harapan kita (agama), dan apa hakikat manusia (antropologi).

Berita Menarik Lainnya:  Penegakan Hukum Tidak Boleh Tunduk Pada Politik Dagang Sapi

Sedangkan menurut W.J.S. Poerwadarminta, filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas hukum dan sebagainya daripada segala yang ada dalam alam semesta ataupun mengetahui kebenaran dan arti “adanya” sesuatu.

Banyak hasil para pemikir yang mencerna permasalahan secara lebih dalam dan bermakna sehingga menjadi referensi banyak orang dan melahirkan para pemikir bijak (filosof) seperti Plato, Socrates, Newton, Al Ghozali, Ibnu Rusyd, Driyakara dan sebagainya.

Stigma bahwa filsafat itu rumit, ruwet, bertele-tele dan membosankan sudah saatnya dikesampingkan. Tidak harus untuk menjadi filosof yang hebat dan terkenal sebagai motivasi untuk bisa memulai dan membiasakan diri untuk bisa menerapkan ilmu filsafat dalam kehidupan nyata sehari-hari. Ibarat mengenal, memahami dan memaknai buah semangka.

Tidak cukup kita melihat semangka dari luarnya saja yang berupa benda bulat hijau dengan batikan hijau muda, serta bagian bawah yang kuning kecoklatan. Untuk mengetahui apakah masih muda atau sudah tua, isinya merah, kuning atau bahkan masih putih serta berbiji atau tidak, perlu berbagai metode guna bisa memastikannya.

Bisa saja kita langsung membelahnya dengan pisau, atau dengan teknologi canggih dewasa ini, tanpa membelah atau merusak buahnya,bisa dilakukan pemindaian sehingga bisa dicitrakan dan didetailkan isi serta kandungan dari buah semangka tersebut. Mengajak dan membiasakan diri untuk berfikir lebih jauh dan dalam terhadap suatu hal, adalah langkah awal yang bagus untuk menerapkan ilmu filsafat.

Dewasa ini media sosial dalam dunia maya mempunyai peran yang sangat signifikan bahkan mulai menguasai dan menggeser berbagai aspek di dunia nyata. Banyak orang terlenakan dan semakin terjauhkan dari pemikiran-pemikiran filosofis.

Saat ini untuk mengetahui suatu hal atau memperbanyak wacana dan wawasan tidaklah sulit bahkan bisa diperoleh secara cepat (instan). Seseorang tinggal searching dengan berbagai platform digital, sudah mendapatkan informasi maupun keterangan tentang sesuatu hal. Namun kedalaman pemahaman akan sangat berbeda. Orang biasanya cukup puas dan dengan informasi awal yang didapatkan, seakan sudah paham sampai isinya, padahal baru mendapatkan penjelasan kulitnya saja.

Berita Menarik Lainnya:  Merdeka dari COVID-19

Tanpa bimbingan dari ahlinya, serta membaca hasil pencarian dalam dunia maya tanpa berupaya menggali lebih dalam, memahami proses dengan keterlibatan emosi dan jiwa serta semangat, akan bisa menyebabakan salah persepsi, salah pemahaman dan salah menyimpulkan terhadap suatu hal, seperti halnya sifat dasar sumber yang dipakai (dunia maya), yakni hampa.

Merujuk pendapat Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara S.J. terkait tentang pengetahuan, bahwa filsafat akan mengajarkan seperti apa isi pengetahuan, bagaimana pengetahuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan, mempelajari asal ilmu pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, batas pengetahuan, hingga kebenaran dan kekeliruan. Pun demikian halnya tentang keberadaan, dunia material, manusia kesusilaan dan ketuhanan.

Filsafat memang mengajarkan tentang bagaimana kita harus mengamati, mempertanyakan, menggugat, memberi makna, dan menawarkan jalan keluar yang mungkin tidak seperti biasanya. Sekali lagi banyak yang menilai bahwa filsafat dipandang kurang praktis, bertele-tele dan kurang menyentuh hal-hal yang teknis.

Namun filsafat dapat memberi arti yang penting dan besar bagi penggunanya untuk bisa memaknai apa yang dihadapinya secara lebih luas dan mendalam dengan berbagai referensi dan sudut pandang.

Mendorong semakin banyak orang untuk melihat sesuatu dan memandang persoalan dengan ilmu filsafat, akan menjadikannya lebih kritis. Mereka akan melihat dasar dari sebuah permasalahan, mengembangkan alternatif jawaban bahkan dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan atas jawaban yang sudah ada. Juga akan lebih hati-hati dalam sebuah penyikapan, karena banyaknya sudut pandang yang muncul dalam sebuah peristiwa ataupun permasalahan.

Berita Menarik Lainnya:  ASO Berlaku, UMKM TV Kabel Mati Perlahan (2/habis)

Perbedaan akan dipahami sebagai sebuah hal yang biasa, sehingga dapat dipahami dan toleransi dapat ditumbuh kembangkan. Orang tidak akan mudah tersulut emosi terhadap fenomena yang didapatinya, tapi justru terdorong untuk berpikir,merenung dan bersikap lebih bijaksana.

Mereka yang belajar filsafat akan semakin bertindak arif dan mencintai kebijaksanaan yang ujungnya akan menjauhkan dari permusuhan dan membawa kedamaian bagi semuanya.

Adalah hal yang tepat dalam perkembangan jaman dewasa ini, membumikan filsafat sebagai salah satu upaya untuk menghadirkan dan memperbanyak orang-orang yang arif dan bijaksana dalam berpikir, bersikap dan bertindak.

Dalam dunia pendidikan, sudah saatnya diberikan pembelajaran tentang filsafat, tidak saja hanya sebagai mata kuliah dasar di perguruan tinggi, tapi perlu juga diajarkan di jenjang SD, SMP, SMA atau yang sederajat dengan materi dan isi serta kedalaman yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi peserta didik serta dipilihkan metodologi yang tepat.

Demikian halnya di lapisan masyarakat lainnya, dapat dijalankan sosialisasi dan pembelajaran filsafat melalui berbagai diskusi, pertemuan dan kajian ilmiah oleh individu maupun organisasi sosial kemasyarakatan.

Seperti halnya kekritisan para tokoh bangsa tentang menipisnya nilai-nilai luhur Pancasila (termasuk moral dan etika) di masyarakat, maka sepantasnyalah filsafat disandingkan dengan Pancasila untuk terus diajarkan dan disosialisasikan pada seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dengan sifat arif dan bijaksana sehingga dapat memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia.

*) Radian Jadid – Kepala Sekolah Rakyat Kejawan – Sekretaris Forum Budaya Jawa Timur – Pengurus di Padepokan Tjokro Aminoto

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi beritabangsa.com

banner 1024x1280
banner 1024x697

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *