Pesantrenpreneur Kunci Kemandirian Pesantren

Pesantrenpreneur Kunci Kemandirian Pesantren
Mohammad Ghofirin, SPd, MPd

oleh: Mohammad Ghofirin, SPd, MPd, (*)

BERITABANGSA.COM-SURABAYA – Kemandirian Pesantren menjadi isu srategis saat ini. Berbagai seminar, sarasehan dan diskusi sering dilakukan untuk membahas konsep dan program kemandirian pesantren. Berangkat dari pijakan Undang Undang nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren, saat ini Pesantren berfungsi bukan hanya sebagai lembaga pendidikan dan lembaga dakwah, namun juga berfungsi sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat.

Bacaan Lainnya
Berita Menarik Lainnya:  Spesialis Curanmor 32 TKP Digulung Satreskrim Polres Tulungagung
banner 1024x1023

Pertanyaannya adalah, apakah bisa pesantren memberdayakan masayarakat, sedangkan pesantrennya sendiri belum berdaya? Untuk menjawabnya tentu bukan hanya sekedar berpijak pada teori pemberdayaan semata, namun wajib dikaji secara mendalam, mengingat Pesantren memiliki ciri khas tersendiri.

Pemberdayaan Ekonomi yang dilakukan harus simultan antara pemberdayaan intern pesantren dan pemberdayaan masyarakat di sekitar pesantren. Pemberdayaan Ekonomi di Internal Pesantren dapat dilakukan dengan pendekatan kurikuler untuk para santri, pendekatan entitas bisnis untuk lembaga usaha di pesantren, dan pendekatan kemitraan dengan alumni pesantren. jika pemberdayaan di internal berhasil maka, selanjutnya Pesantren dapat mengembangkan ke masyarakat sekitar sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.

Berita Menarik Lainnya:  Hima Gizi Unusa Gelar Foodest 2021

Pesantren memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan internalnya berupa biaya sarana prasarana, biaya operasional, biaya santri, kesejahteraan, dan biaya pengembangan pondok pesantren. Biaya-biaya tersebut dipenuhi dari SPP Santri, dana zakat, infaq, sadaqah, dan wakaf, hibah pemerintah dan donasi, serta dari hasil usaha/bisnis yang dijalankan Pesantren melalui Koperasi Pondok Pesantren dan Badan Usaha Milik Pesantren.

Semakin tidak bergantung kepada orang/lembaga lain maka Pesantren dikatakan semakin mandiri. Dari berbagai kebutuhan dan sumber pemenuhan kebutuhan ekonomi Pesantren tersebut, pesantren diharapkan semakin memperbesar usaha/bisnis yang dijalankannya. Sehingga hasil dari usaha tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional pesantren.

Berita Menarik Lainnya:  Emak-emak Kota Probolinggo Serbu Opas Murah

Secara Nasional, terdapat lima tingkatan existing bisnis di Pondok Pesantren.

Pertama, Startup business (bisnis rintisan). Pesantren yang termasuk kelompok ini menjalankan usahanya kurang 2 tahun dan skala bisnis mikro (kekayaan bersih 50 jt, omzet paling banyak 300 jt). Pesantren kelompok ini sebesar 22,5 % secara nasional.

banner 600x310

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *