Temukan Ratusan Karya Dan Citarasa di Kedai Rudeka Jombang

Beritabangsa.com, Jombang – Arek-arek Ijo ambek Abang Jombang pasti tahu kedai yang di kenal dengan julukan Rudeka. Pengetahuan hal dan tempat itu, tidak jauh karena tempat tersebut sangat melukis sejuta karya yang diciptakan sendiri. Mulai dari sampah yang dikelola menjadi tempat duduk, kayu berserakan tersulap menjadi pentas seni wayang, berbagai macam tumbuhan dan bahan pangan akan selalu update menjadi khas menu minuman dan makanan local.

Hal ini berdasarkan dari berbagai ungkapan pelanggan yang telah mengalami duduk santai di kedai tersebut, salah satunya menyatakan bahwa tempat tersebut seperti ruangan yang penuh dengan karya, apalagi seketika pelanggan menikmati suasana dengan hidangannya, keyakinan akan muncul bagaikan hidup di dunia sastra.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1453

Sebelumnya pasti penasaran di benak pemikiran para pembaca naskah berita ini, siapakah pemilik kedainga, dimanakah letak kedainya, dan apa saja sajiannya ?. Sebentar dan santay, di bulan suci Ramadan ini kesabaran sangat penting untuk dilatih.

Berita Menarik Lainnya:  ODGJ di Jombang Ini Dipasung di Rumah Kosong

Pemilik kedainya yakni dari pasangan suami istri (Pasutri) yang bernama Muhammad Alfan Suri dan Finayanur. Mereka adalah orang-orang yang tergolong dalam kajian dunia sastra. Maka tak heran jika salah satunya mempunya skill yang berbeda dan jarang dimiliki oleh orang lain di sekitarnya.

Pada awal bulan suci Ramadan tahun 2019 menjadi suatu sejarah kisah berdirinya kedai kopi Rudeka. Lokasi penempatannya berada di Jalan Agus Salim, Kelurahan Jombatan, Kecamatan/Kabupaten Jombang.

Bebeberapa bulan kemudian, kedai tersebut mulai berkembang dan terkenal di daerah Jombang. Pasalnya, terkenalnya kedai tersebut mulai dari beberapa tempat yang memang dijadikan sebagai pelanggan yang suka pemandangan bernuansa alam dan dunia sastrawan.

Alangkah banyaknya perspektif pelanggan yang suka memaknai kata kedai Rumah Merdeka tersebut. Namun dari sobat Beritabangsa.com akan memberikan fiks dan realnya pengambilan kedua kata itu. Setelah ditanyakan kepada pria pemilik kedai yang di sapa Alfan, ternyata awal penggabungan kata tersebut berangkat dari pengalaman kehidupan komunitas sastra.

“Jadi kami itu semenjak mengikuti beberapa komunitas sastra di berbagai juru kota, kami sempat berpikir bahwa tidak punya tempat singgah atau ‘Rumah’. Sehingga singkat kata menemukan tempat di Jombang yang menurut saya cocok dijadikan tempat berkumpulnya para warga sastrawan,” ujar Alfan kepada Beritabangsa.com

Berita Menarik Lainnya:  Seluruh Proyek Besar di Jombang, Bupati : Insyaallah Akan Diresmikan Bersama Presiden

Setelah beberapa kemudian, beberapa lahan di renovasi layaknya menjadi kedai dan tempat tongkrongan. Sehingga ketika di pandang dari luar halaman, nampaknya bagai kedai yang bercorak rumah kuno.

“Setelah direnovasi dan beberapa tanaman sudah mulai bertambah uwow, dinyatakan bagi kami bahwa hal ini suatu kemerdekaan. Maka dari itu kedai tersebut diberikan nama ‘Rumah Merdeka’, pada saat itulah tempat ini dijadikan kedai yang dibuka untuk umum bukan hanya komunitas saja,” kisahnya.

Berdasarkan pantauan dari Beritabangsa.com ketika berada di lokasi tersebut. Ternyata, kedai tersebut sekarang sudah menjadi tempat singgah pemuda yang ingir berkarya sesuai karirnya. Karena terdapat beberapa aktivitas atau acara yang di gelar tiap bulannya.

“Tiap bulannya, dari kami pasti mengadakan acara. Mulai dari pembelajaran pantomim, pentas seni, malam puisi, wayang dan acara lainnya. Namun semenjak diasa pandemi ini kita sedikit mengurangi, dan bagi pengunjung diharuskan menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya di ruang tamu kedai Rudeka, Selasa (20/04/2021).

Berita Menarik Lainnya:  Masuk Tahap Akhir Open Bidding, Bupati Salwa Tegaskan Pelaksanaan Sesuai Prosedur 

Ditempat yang sama, Beritabangsa.com mengalihkan pertanyaan kepada wanita pemilik kedai yang disapa Bak Pinut terkait kesediaan hidangannya. Al hasil sangat menghiraukan, beberapa penyediaan makanan dan minumannya selalu update tiap bulannya dengan racikannya sendiri.

“Kalau minuman es pasti tidak jau dari memetik kembang dari tumbuhan yang ditanam, seperti Rosela dan Telang. Berbeda dengan kopi, berbagai macam kopi disini, dan semua tidak dikelola secara instan ataupun bingkisan, melainkan campuran dari beberapa rempah-rempah alam. Begitu juga makanan, ada nasi Telang dan lainnya” ujar Pinut kepada Beritabangsa.com.

Maka dari itu, tak heran jika kedai tersebut selalu menerima kebanjiran pelanggan dan pelajar. Sangat asyik dan menarik untuk dijadikan tongkrongan santai. Sebab sudah memang dari corak rumahnya, citarasa menunya, serta beberapa karya-karya uniknya yang membuat pelanggan segan untuk bersinggah.

Diketahui sebelumnya, bahwa di masa pandemi ini kedai tersebut hanya membuka di beberapa waktu saja. Dengan tidak lupa para pengunjung untuk selalu menerapkan peraturan pemerintah yakni protokol kesehatan.

Reporter : Fa’iz
Publisher: Maab

banner 1024x1280

Pos terkait

banner 1024x697

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *