Lomba KJJT vs Acara Gebyar Pemkot Surabaya

Surabaya, Beritabangsa.com – Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT), tidak mau kalah bersaing dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam perayaan Gebyar Kemerdekaan ke 75, tahun 2020 ini.

Dari sisi anggaran, KJJT diakui kalah jauh karena sumber anggaran komunitas wartawan mengandalkan partisipasi segelintir relasi yang peduli, dan sumbangan anggota.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1453

Namun Pemkot Surabaya memiliki anggaran yang sangat besar, mudah didapat dan tersedia di APBD.

Demikian ditegaskan Slamet Maulana, biasa disapa Ade, Ketua KJJT pusat di Kota Surabaya, kepada sejumlah awak media, Kamis (20/8/2020) malam.

Ade kembali mengatakan, KJJT menggelar lomba 17-an tradisional seperti ; makan kerupuk, memakai celana kolor, memasukkan paku di botol, lomba piring tepung berantai hingga lomba karya jurnalistik bernuansa keterbatasan dari sisi Anggaran, peserta dan penonton.

Tetapi, esensi makna perayaan Kemerdekaan lomba KJJT tidak kalah dengan acara gebyar Pemkot Surabaya di Alun alun Kota.

Kata Ade, lomba KJJT lebih memiliki arti empowering wartawan, bernilai dakwah, humanisme, kerukunan, dan gotong royong antar sesama.

“Sesuai tema kita gotong royong, kerukunan dan keguyuban adalah wujud penghargaan kepada pahlawan. Tanpa jingkrak dan hura hura,” tukasnya.

Dirinya menjelaskan pihaknya menggelar beragam lomba KJJT yang mengandung keilmuan, berupa lomba karya jurnalistik.

Berita Menarik Lainnya:  HUT Kemerdekaan Indonesia ke 75, KJJT Gelar Lomba Jurnalistik

“Tapi bandingkan dengan acara Pemkot Surabaya menggelar pentas seni selama sepekan. Sedangkan KJJT 14 hari mulai 17 hingga 31 Agustus nanti,” tukas Ade.

Perbedaan mencolok kata Ade, resiko terhadap penularan Covid-19, lebih rendah KJJT daripada acara yang digelar Pemkot Surabaya.

Acara KJJT digelar di pool side area terbuka dengan disterilkan terlebih dahulu, termasuk peserta sebelum masuk area.

Namun, penonton di Alun – alun Kota Surabaya, potensi kerumunan tetap tinggi dan protokol kesehatan berpotensi dilanggar.

KJJT sengaja menggandeng pihak manajemen The Square Hotel di Jalan Siwalankerto Surabaya untuk menekan resiko Covid.

“Kita gelar sama – sama di ruang terbuka, tapi kita tetap beda karena kita gelar siang dan saat Maghrib kita tutup,” ujar Ade.

Namun, Pemkot Surabaya bikin acara gebyar Kemerdekaan mulai pukul 15.00 hingga pukul 21.00 WIB.

Perbedaannya lagi, penonton dan peserta lomba KJJT hanya puluhan jurnalis, tetapi di Alun – alun Kota Surabaya, penonton tak terbatas dan berpotensi kerumunan sangat tinggi.

Wajar saja acara itu dapat cibiran dari kalangan netizen.Sebut saja IG sahabatmelvin dan @dono pradana.

“Bikin event gak dibolehin, cangkruk gak dibolehin, makan di tempat gak dibolehin, bikin lomba gak dibolehin, , bikin malam tasyakuran di kampung gak dibolehin, Dear Pemkot Surabaya, trus iki opo haaa ??, Jare Corona, sido gak seh ??$.

Berita Menarik Lainnya:  Begini Peran Satgas Kecamatan Pajarakan Bantu Pencegahan Pandemi Covid-19

Begitulah ucapan netizen mencibir kegiatan Pemkot Surabaya. Apalagi kini Kota Surabaya masuk kembali ke zona merah dengan resiko tinggi sebaran Covid.

Acara lomba KJJT tak seheboh acara Pemkot Surabaya dengan anggaran besar untuk membayari artis, dan seniman setiap hari.

“Berapa anggaran yang dikeluarkan?,” ujar Ade.

Tapi KJJT tetap konsisten menggelar lomba tradisional. Kesulitan mencari hadiah dan anggaran kegiatan diakui Ade, mengingat organisasi ajang sinau jurnalis ini baru dibentuk.

Meski demikian KJJT tetap menggelar lomba, sampai puncak acara pada 31 Agustus 2020.

Jurnalis dengan karya berita dan foto terbaiknya akan meraih hadiah spesial dari KJJT. Ada laptop, HP hingga voucher menginap di hotel bersama keluarga.

Ade kembali menegaskan, KJJT sebagai organisasi empowering (pemberdayaan, red) dalam merengkuh ruh semangat juang pahlawan, akan tetap konsisten meski saat ini masih terseok.

Resiko Tinggi di Acara Gebyar Pemkot

Ketua Panitia Lomba, Agusnal, wartawan beritarakyat.co.id, mengatakan, agenda perayaan kemerdekaan RI oleh KJJT kecil resiko penularan Covid, karena patuh protokol kesehatan.

Lanjut Agusnal, tujuan kegiatan jurnalis lebih mengena dibanding dengan kegiatan Pemkot Surabaya di Alun alun.

Dari segi keramaian, Agusnal, mengaku kalah. Di Pemkot selama sepekan sejak 19 Agustus, per hari ada 6 jam kegiatan dari pukul 15.00 – 21.00 WIB, berupa musik band, musik keroncong, srimulat, jaranan, musik patrol, musik KPJ, dan musik jazz.

Berita Menarik Lainnya:  Tegakkan Marwah Jurnalis, KJJT Berikan Dukungan Untuk Asrul

Bahkan sejak Rabu (19/8/2020), sudah digelar ; campursari, wayang kulit, reog, musik angklung, musik KPJ dan stand up comedy.

Meski kegiatan KJJT versus Pemkot Surabaya, sama – sama di situasi pandemi Covid tetapi KJJT mengklaim yang paling kecil risiko Covid, karena disiplin protokol kesehatan. Sedangkan di Alun – alun berpotensi longgar.

Ada ironi menimpa Pemkot. Karena Rabu (19/8/2020) Gugus Tugas Covid Pusat sesuai laman https://covid19.go.id/peta-risiko, Kota Surabaya, geser dari zona oranye pada 10 Agustus 2020 masuk zona merah lagi pada Rabu (19/8/2020). Bertahan 9 hari saja.

Kasus Covid-19 di Kota Pahlawan telah tembus 11.019 kasus, kesembuhan 8.109 kasus dan meninggal tembus 869 jiwa.

Namun, Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya, tetap meresmikan Alun – alun Kota Surabaya yang direncanakan November 2020, tapi dipercepat.

Untuk diketahui sebelumnya, dua kali Risma didemo seniman, se Surabaya minta perwali larangan hajatan dan hiburan malam dicabut.

Kini, Risma, sudah menggandeng para seniman, menyediakan sarana ekspresi di kompleks Alun-Alun Surabaya itu.

Masyarakat Surabaya dapat menikmati berbagai kesenian yakni ludruk, wayang orang, srimulat hingga tari reog secara gratis.

“Nanti Pemkot yang bayar. Senimannya tinggal bermain dan kemudian yang nonton sudah gratis di sini,” tuturnya.

Reporter : Ais

banner 600x310

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *